Hasmar lubis

Monday, 17 July 2017

Inopasi kehidupan


Rahasia si Untung

Kita semua pasti kenal tokoh si Untung di komik Donal Bebek.

Berlawanan dengan Donal yang selalu sial. Si Untung ini dikisahkan
untung terus. Ada saja keberuntungan yang selalu menghampiri tokoh bebek
yang di Amerika bernama asli Gladstone ini. Betapa enaknya hidup si
Untung. Pemalas, tidak pernah bekerja, tapi selalu lebih untung dari
Donal. Jika Untung dan Donal berjalan bersama, yang tiba-tiba menemukan
sekeping uang dijalan, pastilah itu si Untung. Jika Anda juga ingin
selalu beruntung seperti si Untung, dont worry, ternyata beruntung itu
ada ilmunya.

Professor Richard Wiseman dari University of Hertfordshire Inggris,
mencoba meneliti hal-hal yang membedakan orang2 beruntung dengan yang
sial.

Wiseman merekrut sekelompok orang yang merasa hidupnya selalu untung,
dan sekelompok lain yang hidupnya selalu sial. Memang kesan nya seperti
main-main, bagaimana mungkin keberuntungan bisa diteliti. Namun ternyata
memang orang yang beruntung bertindak berbeda dengan mereka yang sial.

Misalnya, dalam salah satu penelitian the Luck Project ini, Wiseman
memberikan tugas untuk menghitung berapa jumlah foto dalam koran yang
dibagikan kepada dua kelompok tadi. Orang2 dari kelompok sial memerlukan
waktu rata-rata 2 menit untuk menyelesaikan tugas ini. Sementara mereka
dari kelompok si Untung hanya perlu beberapa detik saja! Lho kok bisa?

Ya, karena sebelumnya pada halaman ke dua Wiseman telah meletakkan
tulisan yang tidak kecil berbunyi "berhenti menghitung sekarang! ada 43
gambar di koran ini". Kelompol sial melewatkan tulisan ini ketika asyik
menghitung gambar. Bahkan, lebih iseng lagi, di tengah2 koran, Wiseman
menaruh pesan lain yang bunyinya: "berhenti menghitung sekarang dan
bilang ke peneliti Anda menemukan ini, dan menangkan $250!" Lagi-lagi
kelompok sial melewatkan pesan tadi! Memang benar2 sial.

Singkatnya, dari penelitian yang diklaimnya "scientific" ini,
Wiseman menemukan 4 faktor
yang membedakan mereka yang beruntung dari yang sial:

1. Sikap terhadap peluang.

Orang beruntung ternyata memang lebih terbuka terhadap peluang. Mereka
lebih peka terhadap adanya peluang, pandai menciptakan peluang, dan
bertindak ketika peluang datang. Bagaimana hal ini dimungkinkan?

Ternyata orang-orang yg beruntung memiliki sikap yang lebih rileks dan
terbuka terhadap pengalaman-pengalam an baru. Mereka lebih terbuka
terhadap interaksi dengan orang-orang yang baru dikenal, dan menciptakan
jaringan-jaringan sosial baru. Orang yang sial lebih tegang sehingga
tertutup terhadap kemungkinan-kemungkinan baru.

Sebagai contoh, ketika Barnett Helzberg seorang pemilik toko permata di
New York hendak menjual toko permatanya, tanpa disengaja sewaktu
berjalan di depan Plaza Hotel, dia mendengar seorang wanita memanggil
pria di sebelahnya: "Mr. Buffet!" Hanya kejadian sekilas yang mungkin akan
dilewatkan kebanyakan orang yang kurang beruntung. Tapi Helzber berpikir
lain. Ia berpikir jika pria di sebelahnya ternyata adalah Warren Buffet,
salah seorang investor terbesar di Amerika, maka dia berpeluang
menawarkan jaringan toko permatanya. Maka Helzberg segera menyapa pria
di sebelahnya, dan betul ternyata dia adalah Warren Buffet. Perkenalan
pun terjadi dan Helzberg yang sebelumnya sama sekali tidak mengenal
Warren Buffet, berhasil menawarkan bisnisnya secara langsung kepada
Buffet, face to face. Setahun kemudian Buffet setuju membeli jaringan
toko permata milik Helzberg. Betul-betul beruntung.

2. Menggunakan intuisi dalam membuat keputusan.

Orang yang beruntung ternyata lebih mengandalkan intuisi daripada logika.
 
Keputusan-keputusan penting yang dilakukan oleh orang beruntung ternyata
sebagian besar dilakukan atas dasar bisikan "hati nurani" (intuisi)
daripada hasil otak-atik angka yang canggih. Angka-angka akan sangat
membantu, tapi final decision umumnya dari "gut feeling".

Yang barangkali sulit bagi orang yang sial adalah, bisikan hati nurani
tadi akan sulit kita dengar jika otak kita pusing dengan penalaran yang
tak berkesudahan. Makanya orang beruntung umumnya memiliki metoda untuk
mempertajam intuisi mereka, misalnya melalui meditasi yang teratur. Pada
kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih
mudah diakses. Dan makin sering digunakan, intuisi kita juga akan
semakin tajam.

Banyak teman saya yang bertanya, "mendengarkan intuisi" itu
bagaimana?Apakah tiba2 ada suara yang terdengar menyuruh kita melakukan sesuatu?
 
Wah, kalau pengalaman saya tidak seperti itu. Malah kalau tiba2
mendengar suara yg tidak ketahuan sumbernya, bisa2 saya jatuh pingsan.
Karena ini subyektif, mungkin saja ada orang yang beneran denger suara.
Tapi kalau pengalaman saya, sesungguhnya intuisi itu sering muncul dalam
berbagai bentuk, misalnya:

- Isyarat dari badan. Anda pasti sering mengalami. "Gue kok tiba2
deg-deg an ya, mau dapet rejeki kali", semacam itu. Badan kita
sesungguhnya sering memberi isyarat2 tertentu yang harus Anda maknakan.
Misalnya Anda kok tiba2 meriang kalau mau dapet deal gede,
ya diwaspadai saja kalau tiba2 meriang lagi.

- Isyarat dari perasaan. Tiba-tiba saja Anda merasakan sesuatu yang lain
ketika sedang melihat atau melakukan sesuatu. Ini yang pernah saya
alami. Contohnya, waktu saya masih kuliah, saya suka merasa tiba-tiba
excited setiap kali melintasi kantor perusahaan tertentu. Beberapa tahun
kemudiansaya ternyata bekerja di kantor tersebut. Ini masih terjadi
untuk beberapa hal lain.

3. Selalu berharap kebaikan akan datang.

Orang yang beruntung ternyata selalu ge-er terhadap kehidupan. Selalu
berprasangka baik bahwa kebaikan akan datang kepadanya. Dengan sikap
mental yang demikian, mereka lebih tahan terhadap ujian yang menimpa
mereka, dan akan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain.

Coba saja Anda lakukan tes sendiri secara sederhana, tanya orang sukses
yang Anda kenal, bagaimana prospek bisnis kedepan. Pasti mereka akan
menceritakan optimisme dan harapan.

4. Mengubah hal yang buruk menjadi baik.

Orang-orang beruntung sangat pandai menghadapi situasi buruk dan
merubahnya menjadi kebaikan. Bagi mereka setiap situasi selalu ada sisi
baiknya. Dalam salah satu tes nya Prof Wiseman meminta peserta untuk
membayangkan sedang pergi ke bank dan tiba-tiba bank tersebut diserbu
kawanan perampok bersenjata. Dan peserta diminta mengutarakan reaksi
mereka. Reaksi orang dari kelompok sial umunya adalah: "wah sial bener
ada di tengah2 perampokan begitu". Sementara reaksi orang beruntung,
misalnya adalah: "untung saya ada disana, saya bisa menuliskan
pengalaman saya untuk media dan dapet duit". Apapun situasinya orang yg
beruntung pokoknya untung terus. Mereka dengan cepat mampu beradaptasi
dengan situasi buruk dan merubahnya menjadi keberuntungan.

Sekolah Keberuntungan.

Bagi mereka yang kurang beruntung, Prof Wiseman bahkan membuka Luck
School .

Latihan yang diberikan Wiseman untuk orang2 semacam itu adalah dengan
membuat "Luck Diary", buku harian keberuntungan. Setiap hari, peserta
harus mencatat hal-hal positif atau keberuntungan yang terjadi.

Mereka dilarang keras menuliskan kesialan mereka. Awalnya mungkin sulit,
tapi begitu mereka bisa menuliskan satu keberuntungan, besok-besoknya
akan semakin mudah dan semakin banyak keberuntungan yg mereka tuliskan.

Dan ketika mereka melihat beberapa hari kebelakang Lucky Diary mereka,
mereka semakin sadar betapa beruntungnya mereka. Dan sesuai prinsip "law
of attraction", semakin mereka memikirkan betapa mereka beruntung, maka
semakin banyak lagi lucky events yang datang pada hidup mereka.

Jadi, sesederhana itu rahasia si Untung. Ternyata semua orang juga bisa
beruntung. Termasuk kita.


APAKAH ANDA SIAP UNTUK SELALU BERUNTUNG!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Share dari Aa Gusur

Monday, 21 March 2016

Pemeliharaan tanaman kelapa sawit belum menghasilkan.



PEMELIHARAAN TANAMAN KELAPA SAWIT BELUM  MENGHASILKAN

1. PENDAHULUAN

Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) adalah tanaman yang dipelihara sejak bulan penanaman pertama sampai dipanen pada umur 30-36 bulan. Selama masa TBM diperlukan beberapa jenis pekerjaan yang secara teratur harus dilaksanakan, yaitu konsolidasi tanaman, penyisipan tanaman, pemeliharaan piringan pohon, pemeliharaan penutup tanah, pemupukan, tunas pasir, pengendalian hama dan penyakit, persiapan sarana panen, dan pemeliharaan jalan dan parit drainase. Pemeliharaan masa TBM merupakan lanjutan dan penyempurnaan pekerjaan pembukaan lahan dan persiapan untuk mendapatkan tanaman yang berkualitas baik.

2. TUJUAN

Pemeliharaan tanaman dilakukan mulai dari penanaman hingga tanaman mulai di panen yang meliputi penyisipan tanaman, kultur teknis dan persiapan panen, yang bertujuan untuk mencipatkan tanaman yang homogen, produktif dan produksinya tinggi.

3. STANDAR

Melakukan semua kegiatan dengan jadwal peyisipan yang tepat, peneliharaan yang sesuai norma dan persiapan sarana panen yang sesuai kebutuhan.

4. PROSEDUR

4.1. KONSOLIDASI TANAMAN

Konsolidasi pada penanaman kelapa sawit adalah tindakan rehabilitasi terhadap tanaman yang baru ditanam. Persiapan dan penanaman kelapa sawit di perkebunan pada umumnya dilaksanakan dengan cukup baik. Walaupun demikian karena penanaman biasanya dilaksanakan pada skala yang luas maka masih selalu terjadi penanaman yang tidak sesuai dengan syarat-syarat kultur teknis.
Kesalahan tanam yang disebabkan penanaman yang terburu-buru dan kurangnya pengawasan akan mengakibatkan kerusakan tanaman, kelambatan atau kelainan pertumbuhan. Oleh karena itu setelah selesai penanaman kelapa sawit di lapangan, masih diperlukan tahap pekerjaan konsolidasi.
Kegiatan konsolidasi meliputi :
·        Menginventarisasi tanaman yang mati, abnormal, tumbang, terserang hama dan penyakit.
·        Menegakkan kembali tanaman yang doyong dan tumbang antara lain dengan memadatkan tanah disekeliling tanaman yang masih gembur. Pada penanaman yang terlampau dalam, perlu dilakukan pengorekan tanah di sekeliling tanaman agar tangkai pelepah daun tidak terbenam. Pada pengorekan ini harus dipertimbangkan juga kemungkinan terbentuknya cekungan di sekitar tanaman yang mengakibatkan terjadinya genangan air di musim hujan.

4.2. PENYISIPAN TANAMAN

Hasil sensus pohon setiap tahun pada areal TBM dapat menunjukkan jumlah pohon yang akan disisip. Tanaman yang perlu disisip adalah pada areal TBM I, II dan III. Pada TBM III penyisipan dilakukan pada areal kosong yang cukup luas atau mengelompok, namun penyisipan individu tidak dilakukan lagi karena tanaman asli sudah cukup tinggi, sehingga tanaman sisipan terhambat pertumbuhannya. Semua pohon yang mati setelah penanaman harus segera disisip.
Dalam melaksanakan penyisipan perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
·        Lubang tanaman digali kembali pada asal pohon mati dengan ukuran lubang : ukuran atas 60 cm x 60 cm, dalam lubang 50 cm dan ukuran bawah 40 cm x 40 cm.
·        Bibit sisipan sebelum dikirim ke lapangan harus disiram terlebih dahulu..
·        Cara menanam bibit sisipan sama dengan cara menanam tanaman baru.
·        Setiap lubang tanaman sisipan diberi pupuk  500 g RP/pohon.
·        Bibit untuk kebutuhan sisipan disediakan minimal 5% setiap tahun penanaman.

4.3. PEMELIHARAAN PIRINGAN POHON
Penyiangan dilakukan dengan menyingkirkan semua jenis tumbuhan dari permukaan tanah selebar piringan pohon yang telah ditentukan, sehingga tanah bersih dari rumput (clean weeding). Penyiangan dapat dilakukan dengan cara manual (menggaruk) atau cara kimia (penyemprotan).

4.3.1. Cara Manual

Lebih dahulu diukur garis tengah piringan pohon sesuai dengan ketentuan, kemudian di ujung garis tengah piringan pohon tersebut dibuat batas melingkar keliling pohon. Setelah terbentuk batas piringan pohon yang dimaksud baru digaruk dari pinggir piringan ke arah dalam. Selanjutnya rumput-rumput disingkirkan dari piringan pohon. Jari-jari piringan pohon  disesuaikan dengan umur tanaman kelapa sawit :
- TBM I   =  100 cm
- TBM II  =  125 cm
- TBM III =  150 cm
Rotasi dan kapasitas pengendalian gulma piringan pohon adalah sebagai berikut :
- TBM I   = 2,5 HK/Ha/rotasi, 12 kali setahun
- TBM II  = 3,0 HK/Ha/rotasi, 8 kali setahun
- TBM III = 4,0 HK/Ha/rotasi, 8 kali setahun

4.3.2. Cara Kimia

Pemeliharaan piringan pohon secara kimia mulai dapat dilaksanakan pada areal TBM ke 3, dengan rotasi 6 x setahun (R.6) menggunakan bahan glyphosate dengan dosis 300 cc glyphosate per ha per rotasi. Pada daerah pengembangan karena kekurangan tenaga kerja atau upah buruh yang mahal maka pengendalian gulma dengan cara kimia merupakan suatu alternatif yang efisien dan ekonomis. Pemakaian herbisida pada tanaman muda agar dilakukan dengan ekstra hati-hati sehingga tidak menimbulkan dampak negatif terhadap tanaman kelapa sawit.

4.4.  PEMELIHARAAN PENUTUP TANAH
Pengendalian gulma pada tanaman penutup tanah kacangan ini bertujuan untuk mempertahankan kondisi areal agar tetap murni kacangan, dengan jalan menyingkirkan semua jenis gulma yang tumbuh di areal kacangan tersebut.
Teknik pelaksanaan pengendalian gulma pada areal kacangan adalah sebagai berikut :
1.    Mencabut atau membersihkan semua gulma yang tumbuh di antara tanaman penutup tanah kacangan dengan rotasi yang teratur dengan memakai garuk.
2.    Membersihkan dengan memakai garuk semua gulma yang tumbuh di piringan pohon yang harus selalu bersih dengan teratur dan tidak mengganggu perakaran tanaman pokok.
3.    Membalik dengan tangan atau memotong sulur kacangan yang masuk ke piringan atau yang membelit daun dan pohon kelapa sawit.
4.    Mendongkel gulma berkayu yang tumbuh pada areal penutup tanah kacangan.
Berbagai tingkat penyiangan gulma yang dikenal adalah sebagai berikut :
Po:    Penyiangan yang dilakukan dengan menyingkirkan semua gulma dari permukaan tanah, sehingga tanah benar-benar bersih dari tanaman selain tanaman pokok (clean weeding). Pekerjaan ini dilaksanakan sesaat akan membangun tanaman penutup tanah.
P1:    Penyiangan dilaksanakan dengan mencabut semua gulma yang tumbuh di antara tanaman penutup tanah kacangan sehingga akan diperoleh areal penutup tanah kacangan 100 %. Dilaksanakan pada umur tanaman 0-6 bulan dengan rotasi 2 minggu
P2:    Penyiangan yang dilaksanakan dengan mencabut gulma yang tumbuh di antara penutup tanah kacangan sampai keadaan penutup tanahnya terdiri campuran kacangan ± 85% dan rumput lunak ± 15%. Dilaksanakan pada umur tanaman 7-12 bulan dengan rotasi 3 minggu.
P3:    Penyiangan yang dilakukan dengan mencabut gulma yang tumbuh di antara penutup tanah/kacangan dan menyingkirkan rumput-rumputan lunak lainnya yang tumbuh menggerombol di antara penutup tanah, sampai keadaan penutup tanah terdiri dari tanaman kacangan ±70 % dan rumput lunak ± 30%. Dilaksanakan pada umur tanaman 7-12 bulan apabila P2 tidak dapat dilaksanakan, dengan rotasi 3 minggu.
P4:    Penyiangan dengan mencangkul atau mendongkel gulma perdu (Mikania, Euphatorium, Mimosa dll) yang tumbuh di antara kacang-kacangan penutup tanah yang telah bercampur dengan rumput lunak. Dilaksanakan pada umur tanaman 13-30 bulan dengan rotasi 4 minggu.
P5:    Penyiangan yang dilaksanakan dengan membabat sampai batas tinggi yang dikehendaki (±30 cm) di atas permukaan tanah segala jenis gulma kecuali alang-alang yang perlakuannya tetap di-wiping, serta mendongkel sampai ke akar-akarnya tumbuhan liar perdu yang berkayu keras. Dalam kondisi ini terlihat bahwa penutup tanah kacangan yang tinggal sedikit sekali bercampur dengan rumput lunak.

4.4.1. Pengendalian Gulma Alang-Alang Dengan Wiping Alang-Alang

Wiping alang-alang dilakukan secara rutin agar areal tanaman selalu dalam kondisi bebas alang-alang. Wiping alang-alang menggunakan herbisida glyphosat dengan konsentrasi 0,5%. Areal bebas alang-alang dosis pemakaian herbisida 6-10 cc/ha/rotasi. Seorang tenaga kerja wiping, menurut pengalaman mampu melaksanakan pekerjaan wiping dengan 4 l larutan herbisida untuk 1 hari kerja (4 l/HK). Kebutuhan untuk pelaksanaan wiping alang-alang dapat dilihat pada Tabel 5.1.
Untuk menentukan langkah suatu areal alang-alang harus disemprot atau cukup di wiping, areal tersebut perlu diklasifikasikan kondisi alang-alangnya.  Untuk menentukan apakah areal tersebut termasuk sheet, spot, berat, sedang,ringan atau bebas perlu ditentukan titik yang bisa mewakili kondisi satu blok. Dengan luas setiap titik ± 400 m2 (20 m x 20 m). Selanjutnya alang-alang pada titik tersebut diklasifikasikan seperti pada Tabel 5.2.

Tabel 5.1. Kebutuhan tenaga untuk wiping alang-alang

Klasifikasi Alang-alang
TBM III
TBM I dan II
Bebas
< 0,5 HK/Ha
< 1,0 HK/Ha
Ringan
0,5 - 1,0 HK/Ha
1,0 - 2,0 HK/Ha
Sedang
1,0 - 3,0 HK/Ha
2,0 - 4,0 HK/Ha
Berat
3,0 - 5,0 HK/Ha
5,0 - 6,0 HK/Ha


Melaksanakan wiping alang-alang perlu diperhatikan cara kerja sebagai berikut :
1.    Larutan herbisida yang digunakan glyphosat konsentrasi 0,5 %
2.    Kain lap dicelupkan ke larutan, diperas sedikit sebelum diangkat dari ember, agar tidak terlalu banyak larutan yang menetes terbuang ke tanah.
3.    Kain lap diperas sedikit pada pangkal batang alang-alang, sehingga larutan mengalir sedikit ke bawah melalui batang alang-alang tersebut. Selanjutnya kain lap ditarik ke atas untuk membasahi daun alang-alang.
4.    Untuk menandai alang-alang yang sudah diwiping, ujung daun alang-alang dipotong sedikit.
5.    Rotasi wiping alang-alang pada suatu areal harus terjamin ketepatan waktunya.
6.    Pengawasan yang teliti menjadi faktor penting untuk keberhasilan pengendalian alang-alang.

Tabel 5.2. Klasifikasi kondisi alang-alang pada areal kelapa sawit
Klasifikasi
Umur
Kriteria
Sheet

>20 rumpun
Spot

10-20 rumpun
Berat

10-20 batang
Sedang
Tahun 0
Tahun ke 1
Tahun ke 2
Tahun ke 3
TM
7-9 batang
6-9 batang
5-9 batang
4-9 batang
4-9 batang
Ringan
Tahun 0
Tahun ke 1
Tahun ke 2
Tahun ke 3
TM
1-7 batang
1-5 batang
1-4 batang
1-3 batang
1-3 batang
Bebas
Tahun 0 – TM
<9 batang

4.5.  PEMUPUKAN

Tujuan pemupukan adalah menyediakan kebutuhan hara bagi tanaman sehingga tanaman akan tumbuh dengan baik dan akan mampu berpotensi secara maksimal. Dalam pelaksanaan pemupukan harus memperhatikan curah hujan, untuk menghindari kehilangan unsur hara pupuk curah hujan yang ideal adalah 60 - 200 mm per bulan. Dosis pupuk pada TBM belum menggunakan hasil analisis daun, tetapi berdasarkan bagan pemupukan yang dikeluarkan PPKS ( Tabel 5.3. dan 5.4.).

4.5.1. Persiapan pemupukan

Untuk mencapai efisiensi dan efektivitas yang tinggi dari pemupukan, maka diperlukan suatu persiapan yang matang sebagai berikut :
1.   Rencana kebutuhan pupuk, terinci per tahun tanam, per Afdeling, per blok/Kesatuan Contoh Daun (KCD) per jenis pupuk.
2.   Piringan pohon harus bersih secara keseluruhan.
3.   Peta rencana pemupukan/pengeceran pupuk pada blok/KCD untuk kelancaran pemupukan.
4.   Jadwal pemupukan/program harian pemupukan, yang terinci per tanggal, per jenis pupuk, dosis pupuk, per tahun tanam, blok/KCD dan jumlah kebutuhan tenaga.
Tabel 5.3.   Standar umum pemupukan untuk tanaman kelapa sawit TBM pada tanah mineral
Umur
(bulan)*
Dosis pupuk (g/pohon)
Urea
TSP
RP
MOP
Kiserit
HGF-B
Lobang tanaman
-
-
500
-
-
-
3
100
100
-
100
50
-
6
200
100
-
200
100
-
9
200
200
-
350
150
-
12
300
200
-
450
200
25
16
300
200
-
500
250
-
20
300
200
-
600
300
50
24
350
200
-
600
300
-
28
400
300
-
650
350
50
32
550
300
-
700
400
-
Jumlah
2.700
1.800
500
4.150
2.100
125

Tabel 5.4. Standar umum pemupukan untuk tanaman kelapa sawit TBM pada tanah gambut
Umur
(bulan)*
Dosis pupuk (g/pohon)
Urea
RP
MOP
Dolomit
HGF-B
CuSO4
Lobang tanaman
-
-
-
-
-
25
3
100
150
200
100
-
-
6
150
150
250
100
-
-
9
150
200
250
150
25
-
12
200
300
300
150
-
-
16
250
300
300
200
25
-
20
300
300
350
250
-
-
24
350
300
350
300
50
-
28
350
450
450
350
50
-
32
450
450
500
350
-
-
Jumlah
2.300
2.600
2.950
1.950
150
-

·        Setelah tanam di lapangan




4.5.2. Perlengkapan Pemupukan

Perlengkapan/peralatan yang harus disiapkan untuk melaksanakan kegiatan pemupukan adalah :
Ø  Mangkok plastik berukuran 500 cc.
Mangkok Plastik sebagai takaran penaburan pupuk harus tersedia sesuai dengan jumlah tenaga kerja yang memupuk, dan mangkok harus seragam.
Ø  Ember plastik berukuran 12 liter.
Ember plastik sebagai alat untuk membawa sejumlah pupuk dari tempat pengeceran pupuk ke pohon yang akan dipupuk sesuai jumlah tenaga pemupuk. Ukuran ember 12 liter diharapkan agar dapat menampung pupuk minimal 10 kg, sebab ember terlalu kecil maka akan diisi terlalu penuh sehingga pupuk akan tercecer di jalanan.
Ø  Timbangan
Timbangan digunakan untuk menimbang pupuk sesuai dosis dan jenis pupuk yang telah ditetapkan dan selanjutnya dipindahkan ke mangkok penabur, yang merupakan takaran yang sesuai dengan dosis yang ditetapkan dan selanjutnya akan dipergunakan sebagai pedoman ukuran penaburan pupuk. Hal ini perlu dilakukan untuk setiap jenis pupuk yang akan ditaburkan karena beratnya tidak sama walaupun volume yang sama.

4.5.3. Organisasi Kerja Pemupukan

Agar pelaksanaan pemupukan dapat berjalan lancar dan memperoleh hasil yang optimal, maka didalam pelaksanaannya perlu diorganisir sebagai berikut :
1.     Pengecer pupuk
Pengecer pupuk bertugas mengecerkan pupuk di lapangan pada tempat-tempat yang telah ditentukan (sesuai peta rencana pemupukan yang sudah disiapkan). Pengeceran pupuk ini harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya sehingga penabur pupuk tidak perlu mondar mandir dalam mencari pupuk yang akan ditaburkan (membuang-buang waktu). Tenaga pengecer pupuk ini terdiri dari satu regu khusus yang dipimpin langsung oleh seorang Mandor (Mandor pengecer pupuk).
2.    Pembuka kantong pupuk
Setiap mandoran (26 orang penabur pupuk) dibantu oleh : 2 orang tenaga pembedah kantong pupuk, yang tugasnya membuka kantong pupuk dengan pisau.
3.    Penabur pupuk
Penabur pupuk setiap mandoran biasanya terdiri dari 26 orang tenaga kerja yang bertugas menaburkan pupuk sesuai dengan dosis dan jenis pupuk yang telah ditetapkan. Setiap mandoran diawasi oleh satu orang Mandor (Mandor Pemupukan).
4.    Pengumpul karung pupuk
Pekerja ditugaskan mengumpulkan bekas karung pupuk yang sudah ditabur yang  jumlahnya harus sama dengan jumlah karung pupuk yang diecer.

4.5.4. Cara Memupuk

Ada dua cara memupuk yang umum dipakai pada tanaman kelapa sawit yaitu sistim pocket (dibenam) dan sistim tabur langsung diatas piringan pohon.
Tehnik penaburan pupuk agar dilakukan sesuai dengan anjuran sebagai berikut :
Ø  Pupuk harus ditabur ke daerah dimana akar rambut paling banyak, yaitu pada daerah piringan pohon/disekitar bawah tajuk.
Ø  Pupuk yang ditaburkan harus gembur/remah dan tidak menggumpal terutama pupuk N.
Ø  Pupuk harus ditabur merata pada permukaan tanah piringan pohon.
Ø  Penaburan pupuk N pada tanaman umur 1 bulan, mulai dari pangkal pohon sampai dengan radius 30 cm dari pangkal pohon.
Ø  Pupuk RP tidak boleh diberikan bersamaan dengan pupuk ZA atau urea, karena diantara kedua pupuk ini mudah timbul reaksi sehingga akan menghambat ketersediaan masing-masing unsur hara. Interval waktu pemberian ± 2 minggu.
Ø  Pupuk ZA/urea dapat diberikan pada waktu yang berdekatan dengan pupuk MOP, dolomit/kiserit, tetapi tidak dianjurkan untuk mencampur ketiga jenis pupuk tersebut, karena homogenitas campuran tidak terjamin.
Ø  Pemberian pupuk borate dilaksanakan dengan cara menaburkan pada ketiak pelepah daun mulai dari antara lingkaran II dan III dari daun tombak atau ditabur di tanah.
Ø  Sebelum pelaksanaan pemupukan agar Asisten Afdeling atau Mandor Besar memberi contoh/peragaan bagaimana menabur pupuk yang benar.

4.5.5. Pengawasan

Pengawasan dilaksanakan untuk memastikan bahwa semua pekerjaan pemupukan telah dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah disusun. Pada setiap kegiatan pemupukan Asisten Afdeling dan Mandor Besar harus berada di tempat untuk memantau pelaksanaan pemupukan tersebut sehingga tidak terjadi pupuk tertinggal di gawangan/areal ataupun pohon tidak terpupuk.
Selain hal tersebut diatas perlu diperhatikan pula bahwa tidak dibenarkan ada pupuk menginap di areal, yang diakibatkan pemupukan tidak selesai dilakukan.

4.6.  MENUNAS DAN KASTRASI
4.6.1. Menunas (Tunas Pasir)
Menunas adalah pekerjaan memotong daun-daun tua tanaman kelapa sawit yang tidak bermanfaat lagi bagi tanaman. Sebenarnya dari segi tanaman tidak dibenarkan ada daun yang masih hijau dibuang atau dipotong, daun-daun tua yang masih hijau menjelang kering dilihat dari fungsinya sebagai “assimilator” tidak begitu berarti lagi. Menjelang kering terjadi transport zat makanan dari daun tua ke pucuk, dimana zat-zat makanan itu dipergunakan untuk pertumbuhan bagian lain, terutama unsur yang mobil seperti K dan Mg.
Jadi bila daun yang masih hijau kita potong berarti unsur-unsur yang seharusnya masih bisa dipergunakan oleh tanaman akan terbuang. Tanaman kelapa sawit muda tidak boleh ditunas sampai dengan umur 15 bulan, karena jumlah daun sampai umur 15 bulan masih < 48 daun.
Tujuan menunas pada TBM kelapa sawit terutama untuk sanitasi pohon. Peralatan yang diperlukan dalam menunas : chisel berukuran 5 - 7,5 cm. Kemampuan menunas setiap tenaga kerja adalah 1,5 - 3 Hk per ha per rotasi dengan rotasi setiap 6 bulan sekali.

4.6.2. Kastrasi

Kastrasi dilakukan terutama pada tanaman yang mengeluarkan bunga yang buahnya belum memenuhi syarat untuk dikirim ke pabrik dan pertumbuhan tanaman kerdil. Kastrasi ialah pembuangan bunga, baik bunga jantan ataupun bunga betina yang tumbuh pada tanaman kelapa sawit. Kastrasi dilaksanakan sejak bunga jantan/betina mulai keluar dengan tujuan :
·        Merangsang pertumbuhan vegetatif.
·        Untuk mendapatkan buah yang dengan berat/tandan yang relatif seragam/sama.
·        Memperoleh kondisi tanaman yang bersih, sehingga akan mengurangi kemungkinan serangan hama dan penyakit.
Kastrasi ini dapat dilakukan dengan memotong bunga yang baru keluar di ketiak pelepah daun, sebelum membesar dipotong dengan alat tertentu tanpa melukai batang kelapa sawit dan pangkal pelepah daun. Rotasi kastrasi satu kali sebulan, sehingga bunga yang keluar belum banyak menyerap unsur hara dari tanaman tersebut.
1. Peralatan kastrasi
Besi cabang kaki kambing atau chisel berukuran 5 - 7,5 cm khusus untuk bunga yang telah besar karena terlambat dikastrasi. Tenaga yang diperlukan adalah 1 HK/ha/rotasi. Tenaga kastrasi dipersiapkan untuk menjadi “pemanen” setelah tanaman memasuki masa TM.
4.7.  PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT
4.7.1. Hama
Hama-hama tanaman yang umum dijumpai menyerang tanaman kelapa sawit belum menghasilkan adalah Ulat Pemakan Daun Kelapa Sawit (UPDKS), dengan jenis seperti pada Tabel 5.5. Serangan UPDKS mengakibatkan kelapa sawit kehilangan daun dan akhirnya secara signifikan akan menurunkan produksi kelapa sawit.

Tabel 5.5. Ulat Pemakan Daun Kelapa Sawit (UPDKS)
Jenis ulat
Populasi kritis (ulat/pelepah)
Ulat api:
Setothose asigna
Setora nitens  
Darna (Orthocraspeda) trima
Darna (Ploneta) diducta
Darna (Ploneta) bradleyi
Birthosea bisura         

5-10
5-10
20-30
10-20
10-20
10-20
Ulat kantong:
Mahasena corbetti
Metisa plana

4-5
5-10

Hama lainnya adalah Kumbang Penggerek Pucuk Kelapa Sawit (Oryctes rhinoceros) yang hinggap pada pelepah yang agak muda, kemudian menggerek ke arah titik tumbuh kelapa sawit. Panjang lubang gerekan dapat mencapai 4,2 cm/hari. Apabila gerekan sampai ke titik tumbuh, kemungkinan tanaman akan mati atau tumbuh tunas baru satu atau lebih.  Hama yang juga merusak titik tumbuh tanaman dan memakannya adalah tikus dan apabila serangan dengan intensitas tinggi harus dilakukan penanaman ulang.

 

4.7.2. Penyakit

Penyakit yang umum dijumpai pada TBM antara lain  Penyakit tajuk (Crown Disease) yang disebabkan oleh faktor keturunan dengan gejalanya ditandai munculnya pelepah yang tidak membuka sempurna dan bengkok bentuknya. Pada daun tombak yang belum membuka terlihat pembusukan berwarna coklat yang menyebar melalui bagian tengah dan menyebabkan anak daun menjadi terputus-putus. Kadang-kadang masih terbentuk anak daun yang sempurna, tetapi seringkali anak daun hancur membusuk sehingga tinggal sisanya saja. Pada bagian pelepah yang tidak membuka seringkali membusuk, berbercak-bercak dan seringkali ditumbuhi oleh berbagai cendawan sekunder.
Penyakit Busuk tandan Marasmius (Marasmius bunch rot) yang disebabkan oleh jamur menyerang tandan sehingga menjadi busuk. Faktor yang mendorong timbulnya penyakit ini antara lain kebersihan tanaman kurang terpelihara, piringan sempit, penunasan terlambat, defisiensi hara, dan curah hujan tinggi. Penyakit ini ditandai dengan gejala awal adanya miselia cendawan berwarna putih pada kulit buah dan tandan. Cendawan hidup sebagai saprofit pada sisa-sisa makanan dan akan menjadi parasit kalau lingkungan sesuai. Pada awalnya cendawan memperbanyak diri di sekitar pangkal batang, kemudian menyerang tandan buah terbawah.

Tabel 5.6. Dosis dan aplikasi biofungisida Marfu

No.
Sasaran
Dosis (g/pohon)
Cara aplikasi
1.
Bibit kelapa sawit
·     Tanah pengisi polibeg main nurseri.
·     Bibit di main nurseri

-

10

Dicampurkan 1 kg Marfu-P/m3 tanah
Ditaburkan di permukaan tanah di dalam polibeg pada saat pemindahan bibit ke main nurseri
2.
Perlindungan Tanaman Muda pada areal tanam Ulang :
·    Lubang tanam
·    Tanah hasil galian lubang tanam
·    TBM I
·    TBM II
·    TBM III


200

200
200
200
200


Dimasukkan ke lubang tanam

Dicampur ke dalam tanah
Ditaburkan pada piringan
Ditaburkan pada piringan
Ditaburkan pada piringan
3.
Eradikasi Sumber Penularan :
·     Rumpukan rajangan batang tanaman sakit
·     Lubang tanaman sisipan
·     Tanah hasil galian lubang tanaman sisipan

200

200
200

Ditaburkan

Dimasukkan ke lubang tanam
Dicampurkan ke dalam tanah
4.
Pengobatan Tanaman Sakit dengan gejala awal :
·      Lubang di sekitar pangkal batang tanaman sakit
·      Piringan tanaman sakit
·      Piringan 6 tanaman sehat di sekitar tanaman sakit


300

200
200


Dimasukkan ke dalam 4 lubang

Ditaburkan
Ditaburkan
5.
Pengobatan Tanaman Sakit dengan Gejala Lanjut :
·      Tanah penimbun pangkal batang


1000


Dicampurkan merata ke dalam 1 m3  tanah

Penyakit yang disebabkan oleh jamur Ganoderma boninense Pat juga sering dijumpai di TBM. Jamur ini merupakan penghuni tanah indigenous hutan hujan tropika dan hidup pada berbagai jenis palma. Mengingat hampir semua perkebunan kelapa sawit di Indonesia berada pada areal bekas hutan hujan tropika, maka kemungkinan besar akan mengalami masalah penyakit BPB. Penularan penyakit dari pohon ke pohon melalui pertautan antara akar sehat dan akar sakit, atau melalui spora yang disebarkan oleh angin. Gejala awalnya pada daun tanaman kelapa sawit muda (TBM-TM III) mengalami klorosis, selanjutnya daun tanaman kelapa sawit muda layu atau mati, serta terjadi pembusukan pada jaringan pangkal batang dan akhirnya tanaman mati. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan menggunakan MARFU-P (Tabel 5.6).
4.8. PERSIAPAN SARANA PANEN

4.8.1. Jalan Pikul

Jalan pikul dibuat ditengah-tengah gawangan kelapa sawit. Dibangun secara bertahap yakni setiap 8 baris tanaman 1 jalan pikul, tahap kedua setiap 4 baris tanaman, dan menjelang panen setiap 2 barisan tanaman. Lebar jalan pikul 1 meter dibuat sepanjang blok tanaman.
Pembuatan jalan pikul pada areal penutup tanah kacangan, dapat dilaksanakan secara kimia dengan menggunakan glyphosate konsentrasi 0,3 % dan rotasi 3 x dalam setahun.
4.8.2.  Tempat Pengumpulan Hasil  (TPH)
Tempat pengumpulan hasil (TPH) dibuat pada waktu tanaman menjelang dipanen. TPH dibuat pada ujung jalan pikul dengan aturan setiap 5 jalan pikul dibuat satu TPH, masing-masing dikedua ujungnya. Dengan cara demikian maka jarak jalan terjauh untuk pamanen memikul buah dibuat satu TPH, masing-masing dikedua ujungnya. Ukuran TPH  adalah 2m x  3m.
4.9.  PEMELIHARAAN SARANA JALAN, TERAS, DAN PARIT DRAINASE
4.9.1.  Pemeliharaan Jalan
Jalan produksi dipersiapkan sejak TBM dan pengerasan dilakukan secara bertahap, sehingga pada saat TM kondisi jalan tersebut telah sempurna. Pelaksanaan pengerasan jalan setiap tahun 33% dari panjang jalan. Permukaan jalan selalu diusahakan cembung  untuk mencegah genangan air, dan parit jalan harus selalu dipelihara agar air dapat mengalir dengan lancar. Perbaikan atau pemeliharaan jalan dilakukan dengan rotasi 2 kali setahun.
4.9.2.  Pemeliharaan teras/rorak
Teras dipelihara dengan mengangkat tanah yang longsor dikembalikan ke atas teras. Penambahan tanah diambil dari dinding teras, rotasi pemeliharaan  sekali setahun. Rorak dipelihara dengan cara mengeluarkan masa tanah yang masuk ke dalam rorak dan menempatkannya kembali ke atas benteng. Kacangan penutup tanah yang menjalar ke dalam rorak arahnya dipindahkan ke atas benteng. Rotasi pemeliharaan rorak sama dengan pemeliharaan teras.
4.9.3.  Pemeliharaan parit drainase
Pemeliharaan parit drainase bertujuan mengangkat/menggali tanah yang menutup parit, sehingga ukuran parit tetap seperti semula. Pada areal TBM pemeliharaan parit drainase dilakukan 2 kali setahun, berdasarkan ukuran parit pemeliharaan parit ini dikerjakan sebagai berikut:
n  Parit ukuran  120 x  60 x 60 cm = 20 m/HK
n  Parit ukuran    90 x  45 x 45 cm = 30 m/HK
n  Parit ukutan    60 x  30 x 30 cm = 40 m/HK


STOP PRESS !!!!!
MOHON DIBUATKAN PERTANYAAN ATAU STUDI KASUS ATAU CONTOH KASUS UNTUK MENGGUGAH PESERTA MEMANFAATKAN PENGETAHUANNYA TENTANG TBM DALAM REALITAS

MOHON JUGA DIBUATKAN LEMBAR KERJA UNTUK PRAKTEK LAPANGAN DALAM RANGKA MENGEVALUASI SESUAI-TIDAKNYA KINERJAPEMELIHARAAN TBM TEMPAT PRAKTEK DENGAN NORMA YANG DIANJURKAN