Monday, 14 May 2012
Inda pe ipamasuk manuk tu lobu
Hatiha ari ahat kehe mada hami marmayam tu aek si ayu on itopi tor si janggut don.kiro-kiro satonga pardalanan bahat dongan madung loja,ro maning si palit mangan kita jolo ning i a harana ia maroban indahan tungkus nang i pasiap sian bagas.ah........baru bincar dope mata ni ari madung mangontang mangan ko......ah ho peda.rap mondokon dongan i .borat do ....margonti hita ro mandokon si kotan i oban ia muse tar satonga jom mangontang mangan muse si kotan......asi mangan he .......lengenan ita pangan sannari harana isadun inda adong na lapang ning ia.....mangan ma hami.....rupona hara ni borat ni indahan tungkus i do halai mangontang mangan.hami lanjukon par dalanan sasakali mabuat sanduduk torus ipangan rap rata be ma bibir dohot dila.santak mahami tu ujung ni aek si ayu......ma molgang pisang doma hami margiri dongan i adong ning ia....na lupa angkon na mulak do harana songn judul nai do...??????????
Wednesday, 28 March 2012
Pemupukan kelapa sawit
JENIS PUPUK UNTUK TANAMAN KELAPA SAWIT
Pupuk yang berkembang di Indonesia
saat ini untuk tanaman perkebunan telah meliputi berbagai jenis. Pupuk tersebut
telah tercatat di Ditjen Perkebunan dan sebagian telah digunakan untuk tanaman
perkebunan (Lampiran 1). Jenis pupuk untuk tanaman kelapa sawit dapat dikelompokan
ke dalam lima kelompok yaitu: pupuk tunggal; pupuk campuran; pupuk majemuk;
pupuk lambat tersedia (tablet), dan pupuk organik. Pemilihan jenis pupuk oleh
kebun disarankan agar hati-hati, hal ini mengingat telah banyak jenis pupuk
yang beredar di pasaran dengan berbagai bentuk dan komposisi hara. Lampiran 2
menyajikan beberapa contoh jenis pupuk
dolomit dan rock phosphate (RP) di pasaran yang memiliki komposisi hara
yang beragam dan beberapa tidak memenuhi Standar Nasional Industri (SNI).
4.1. Pupuk Tunggal
Pupuk
tunggal adalah kelompok pupuk yang hanya mengandung satu jenis hara utama.
Pupuk tunggal yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hara N, P, K, Mg, dan Ca
pada tanaman kelapa sawit dan telah direkomendasikan oleh Pusat Penelitian
Kelapa Sawit (PPKS) disajikan pada Tabel 7.1. Pupuk tunggal merupakan pupuk
yang paling umum digunakan dalam pemupukan tanaman kelapa sawit, utamanya untuk
tanaman menghasilkan. Biaya perunit hara dalam pupuk tunggal masih lebih rendah
dibandingkan dengan jenis pupuk majemuk atau jenis pupuk lainnya. Akan tetapi
biaya aplikasi pupuk tunggal menjadi lebih mahal, karena hanya satu jenis hara
saja yang diaplikasikan pada setiap aplikasi pemupukan.
Pupuk nitrogen yang umum digunakan adalah urea, karena pupuk ini
secara ekonomis lebih menguntungkan. Hal ini karena kandungan hara nitrogen lebih tinggi pada urea, sedang
harga per satuan beratnya sama.
Sumber pupuk P yang umum digunakan untuk tanaman
kelapa sawit adalah rock phosphate (RP). Penggunaan RP dianggap lebih
murah dibandingkan dengan pupuk superfosfat (SP 36) yang merupakan pupuk
pabrik. Sumber hara K yang banyak digunakan
JENIS PUPUK UNTUK TANAMAN KELAPA SAWIT
Pupuk yang berkembang di Indonesia
saat ini untuk tanaman perkebunan telah meliputi berbagai jenis. Pupuk tersebut
telah tercatat di Ditjen Perkebunan dan sebagian telah digunakan untuk tanaman
perkebunan (Lampiran 1). Jenis pupuk untuk tanaman kelapa sawit dapat
dikelompokan ke dalam lima kelompok yaitu: pupuk tunggal; pupuk campuran; pupuk
majemuk; pupuk lambat tersedia (tablet), dan pupuk organik. Pemilihan jenis
pupuk oleh kebun disarankan agar hati-hati, hal ini mengingat telah banyak
jenis pupuk yang beredar di pasaran dengan berbagai bentuk dan komposisi hara.
Lampiran 2 menyajikan beberapa contoh
jenis pupuk dolomit dan rock phosphate (RP) di pasaran yang memiliki
komposisi hara yang beragam dan beberapa tidak memenuhi Standar Nasional
Industri (SNI).
4.1. Pupuk Tunggal
Pupuk
tunggal adalah kelompok pupuk yang hanya mengandung satu jenis hara utama.
Pupuk tunggal yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hara N, P, K, Mg, dan Ca
pada tanaman kelapa sawit dan telah direkomendasikan oleh Pusat Penelitian
Kelapa Sawit (PPKS) disajikan pada Tabel 7.1. Pupuk tunggal merupakan pupuk
yang paling umum digunakan dalam pemupukan tanaman kelapa sawit, utamanya untuk
tanaman menghasilkan. Biaya perunit hara dalam pupuk tunggal masih lebih rendah
dibandingkan dengan jenis pupuk majemuk atau jenis pupuk lainnya. Akan tetapi
biaya aplikasi pupuk tunggal menjadi lebih mahal, karena hanya satu jenis hara
saja yang diaplikasikan pada setiap aplikasi pemupukan.
Pupuk nitrogen yang umum digunakan adalah urea, karena pupuk ini
secara ekonomis lebih menguntungkan. Hal ini karena kandungan hara nitrogen lebih tinggi pada urea, sedang
harga per satuan beratnya sama.
Sumber pupuk P yang umum digunakan untuk tanaman
kelapa sawit adalah rock phosphate (RP). Penggunaan RP dianggap lebih
murah dibandingkan dengan pupuk superfosfat (SP 36) yang merupakan pupuk
pabrik. Sumber hara K yang banyak digunakan
Monday, 23 January 2012
HAMA KELAPA SAWIT
Hama dan Penyakit Kelapa Sawit
Pengendalian
hama dan penyakit tanaman
A.
Penyakit
1. Penyakit Akar (Blast disease)
1. Penyakit Akar (Blast disease)

Gejala
serangan :
-
Tanaman tumbuh abnormal dan lemah
- Daun tanaman berubah menjadi berwarna kuning
- Daun tanaman berubah menjadi berwarna kuning
Penyebab
:
Jamur
(Rhizoctonia lamellifera dan Phytium sp.)
Cara
pengendalian :
-
Melakukan kegiatan persemaian dengan baik
- Mengatur pengairan agar tidak terjadi kekeringan di pertanaman
- Mengatur pengairan agar tidak terjadi kekeringan di pertanaman
2.
Penyakit Busuk Pangkal Batang (Basal stem rot/Ganoderma)
Gejala
serangan:
-
Daun berwarna hijau pucat
- Jamur yang terbentuk sedikit
- Daun tua menjadi layu dan patah
- Dari tempat yang terinfeksi keluar getah
- Jamur yang terbentuk sedikit
- Daun tua menjadi layu dan patah
- Dari tempat yang terinfeksi keluar getah
Penyebab
:
Jamur
Ganoderma applanatum, Ganoderma lucidum, dan Ganoderma
pseudofferum.
Cara
pengendalian dan pencegahan :
-
Membongkar tanaman yang terserang dan selanjutnya dibakar
- Melakukan pembumbunan tanaman
- Melakukan pembumbunan tanaman
3.
Penyakit Busuk Batang Atas (Upper stem rot)
Gejala
serangan:
-
Warna daun yang terbawah berubah dan selanjutnya mati
- Batang yang berada sekitar 2 m di atas tanah membusuk
- Bagian yang busuk berwarna cokelat keabuan
- Batang yang berada sekitar 2 m di atas tanah membusuk
- Bagian yang busuk berwarna cokelat keabuan
Penyebab
:
Jamur
Fomex noxius.
Cara
pengendalian :
-
Melakukan pembongkaran tanaman yang terserang dan membuang bagian tanaman yang
terserang
- Bekas luka selanjutnya ditutupi dengan obat penutup luka
- Bekas luka selanjutnya ditutupi dengan obat penutup luka
4.
Penyakit Busuk Kering Pangkal Batang (Dry basal rot)
Gejala
serangan :
Tandan
buah membusuk dan pelepah daun bagian bawah patah.
Penyebab
:
Jamur
Ceratocytis paradoxa.
Cara
pengendalian :
Membongkar
tanaman yang terserang hebat dan selanjutnya dibakar.
5.
Penyakit Busuk Kuncup (Spear rot)
Gejala
serangan:
Jaringan
pada kuncup (spear) membusuk dan berwarna kecokelatan.
Penyebab
:
Belum
diketahui dengan pasti.
Cara
pengendalian : Memotong bagian kuncup yang terserang
6.Penyakit
Busuk Titk Tumbuh (Bud rot)
Gejala
serangan :
-
Kuncup tanaman membusuk sehingga mudah dicabut
- Aroma kuncup yang terserang berbau busuk
- Aroma kuncup yang terserang berbau busuk

Penyebab
:
Bakteri
Erwinia.
Cara
pengendalian :
Belum
ada cara efektif untuk memberantas penyakit ini.
7.
Penyakit Garis Kuning (Patch yellow)
Gejala
serangan:
Terdapat
bercak daun berbentuk lonjong berwarna kuning dan di bagian tengahnya berwarna
cokelat.
Penyebab
:
Jamur
Fusarium oxysporum
Cara
pengendalian :
Melakukan
inokulasi penyakit pada bibit dan tanaman muda. Hal ini bertujuan agar
serangan penyakit di persemaian dan pada tanaman muda dapat berkurang.
8.
Penyakit Antraknosa (Anthracnose)
Gejala
serangan :
-
Terdapat bercak-bercak cokelat tua di ujung dan tepi daun
- Bercak-bercak dikelilingi warna kuning
- Bercak ini merupakan batas antara bagian daun yang sehat dan yang terserang
- Bercak-bercak dikelilingi warna kuning
- Bercak ini merupakan batas antara bagian daun yang sehat dan yang terserang
Penyebab
:
Jamur
Melanconium sp., Glomerella cingulata, dan Botryodiplodia
palmarum.
Cara
pengendalian :
-
Melakukan pengaturan jarak tanam, penyiraman secara teratur dan pemupukan berimbang
- Tanah yang menggumpal di akar harus disertakan pada waktu pemindahan bibit dari persemaian ke pembibitan utama.
- Tanah yang menggumpal di akar harus disertakan pada waktu pemindahan bibit dari persemaian ke pembibitan utama.
Pengaplikasian
Captan 0,2% atau Cuman 0,1%.
9.
Penyakit Tajuk (Crown disease)
Gejala
serangan :
Helai
daun bagian tengah pelepah berukuran kecil-kecil dan sobek.
Penyebab:
Sifat
genetik yang diturunkan dari tanaman induk.
Cara
pengendalian :
Melakukan
seleksi terhadap tanaman induk yang bersifat karier penyakit ini.
10.
Penyakit Busuk Tandan (Bunch rot)
Gejala
serangan:
Terdapat
miselium berwarna putih di antara buah masak atau pangkal pelepah daun.
Penyebab
:
Jamur
Marasmius palmivorus.
Cara
pengendalian :
Melakukan
kastrasi, penyerbukan buatan dan menjaga sanitasi kebun, terutama pada musim
hujan.
Pengaplikasian
difolatan 0,2 %.
B.
Hama
1.
Nematoda (Rhadinaphelenchus cocophilus)
Gejala
serangan :
-
Daun terserang menggulung dan tumbuh tegak
- Warna daun berubah menjadi kuning dan selanjutnya mengering.
- Warna daun berubah menjadi kuning dan selanjutnya mengering.
Cara
pengendalian:
-
Pohon yang terserang dibongkar dan selanjutnya dibakar
- Tanaman dimatikan dengan racun natrium arsenit
- Tanaman dimatikan dengan racun natrium arsenit
2.
Tungau (Oligonychus sp.)
Gejala
serangan :
Daun
yang terserang berubah warnanya menjadi berwarna perunggu mengkilat (bronz).
Cara
pengendalian :
Pengaplikasian
akasirida yang mengandung bahan aktif tetradifon 75,2 g/l.
3.
Pimelephila ghesquierei
Gejala
serangan :
Serangan
menyebabkan lubang pada daun muda sehingga daun banyak yang patah.
Cara
pengendalian :
-
Serangan ringan dapat diatasi dengan memotong bagian yang terserang
- Pada serangan berat dilakukan penyemprotan parathion 0,02%.
- Pada serangan berat dilakukan penyemprotan parathion 0,02%.
4.
Ulat api (Setora nitens, Darna trima dan Ploneta diducta)
Gejala
serangan :
Daun
yang terserang berlubang-lubang. Selanjutnya daun hanya tersisa tulang
daunnya saja.
Cara
pengendalian :
Pengaplikasian
insektisida berbahan aktif triazofos 242 g/l, karbaril 85 % dan klorpirifos 200
g/l.
5.
Ulat kantong (Metisa plana, Mahasena corbetti dan Crematosphisa
pendula)
Gejala
serangan:
-
Daun yang terserang menjadi rusak, berlubang dan tidak utuh lagi
- Selanjutnya daun menjadi kering dan berwarna abu-abu.
- Selanjutnya daun menjadi kering dan berwarna abu-abu.
Cara
pengendalian :
Pengaplikasian
timah arsetat dengan dosis 2,5 kg/ha atau dengan insektisida berbahan aktif
triklorfon 707 g/l, dengan dosis 1,5-2 kg/ha. 6. Belalang Valanga
nigricornis dan Gastrimargus marmoratus
Gejala
serangan:
Terdapat
bekas gigitan pada bagian tepi daun yang terserang.
Cara
pengendalian :
Pengendalian
dapat dilakukan dengan mendatangkan burung pemangsanya.
7.
Kumbang Oryctes rhinoceros
Gejala
serangan :
Daun
muda yang belum membuka dan pada pangkal daun berlubang-lubang.
Cara
pengendalian :
Menggunakan
parasit kumbang, seperti jamur Metharrizium anisopliae dan virus Baculovirus
oryctes.
Melepaskan
predator kumbang, seperti tokek, ular dan burung.
8.
Ngengat Tirathaba mundella (penggerek tandan buah)
Gejala
serangan:
Terdapat
lubang-lubang pada buah muda dan buah tua.
Cara
pengendalian :
Pengaplikasian
insektisida yang mengandung bahan aktif triklorfon 707 g/l atau andosulfan 350
g/l.
9.
Tikus (Rattus tiomanicus dan Rattus
sp.)
Gejala
serangan:
-
Pertumbuhan bibit dan tanaman muda tidak normal
- Buah yang terserang menunjukkan bekas gigitan.
- Buah yang terserang menunjukkan bekas gigitan.
Cara
pengendalian :
Melakukan
pengemposan pada sarangnya atau mendatangkan predator tikus, seperti kucing, ular
dan burung hantu.



Dok: PPKS MARIHAT
By:Hasmar lubis
Subscribe to:
Comments (Atom)